Jumat, 25 Januari 2013

Kamis, 10 Januari 2013

"Kerlap-kerlip" Asprak

Akhirnya di awal dua puluh-tiga belas ini, penulis kembali menerbitkan tulisan lagi. Sebenarnya tulisan ini pengalaman penulis ketika penulis berkesempatan menjadi asprak (asisten praktikum) salah satu mata kuliah pada semester ganjil.
Penulis mendapatkan mata kuliah yang termasuk berat baik bagi mahasiswa maupun saya. Berat bagi mahasiswa karena mata kuliah ini membutuhkan daya analisis yang kuat, perhitungan yang cermat, serta kedisiplinan dan keuletan yang tinggi. Sementara berat bagi penulis karena pada saat mendapatkan mata kuliah ini membutuhkan "struggle" yang lebih dari mata kuliah lain. Maklum, menurut penulis karena mata kuliahnya berat.
Awal-awal jadi asprak sangat nerveous, karena tidak terlalu menguasai  materi yang diberikan. Berubahnya cara penyampaian materi kuliah saat saya mendapatkannya dengan pada saat menjadi asprak, setidaknya menghasilkan kebingungan juga.
Meskipun banyak yang tidak mengerti materi, tetapi dengan menjadi asprak setidaknya "dipaksa" untuk mengerti. Alasannya ya mulai dari "malu" apabila bilang tidak tahu, hingga dianggap kurang kredibilitas. Namun apa daya, karena materi dari mata kuliah ini bisa dibilang gabungan dari tiga hingga enam mata kuliah; dan ada pula yang belum dipelajari, terpaksa penulis bilang tidak tahu.hhe.
Sebenarnya bukan terpaksa juga, tetapi memang jujur karena Penulis tidak menguasai media atau kakas yang ditanyakan tersebut. Misalnya ketika disuruh memberitahu kode untuk bahasa pemrograman X yang belum dikuasai sama sekali oleh penulis, tentu saja lebih baik bilang tidak tahu daripada sok tahu kan.. :)
Selain dapat berbagi ilmu, menjadi asprak pun dapat menambah ilmu yang memang belum diketahui sebelumnya. Hitung-hitung kuliah tambahan. Karena pada suatu sesi, para asprak harus mengomentari pekerjaan mahasiswa lain. Silang pendapat dan perbedaan konsep pun tak terhindarikan. Nah di situ lah sebuah konklusi baru sering ditemukan yang membenarkan konklusi lama. Selain itu, mendengarkan penjelasan dari bermacam dosen pun menjadi kuliah tambahan yang terselubung juga.
Selain bersifat akademik, menjadi asprak pun juga melatih softskill: berbicara di hadapan orang; dan melatih kesabaran emosi juga. Terutama ketika diamanatkan untuk mengawas ujian. Pada kondisi itu terkadang terjadi 'buah simalakama': dibiarkan nyontek salah, diawasi ketat salah. Namun daripada serba salah lebih baik serba benar saja: diawasi ketat. Sebab, seketat-ketatnya pengawas ujian pasti jebol juga kan. Selain itu, sering juga para asprak berbagi pengalaman bagaimana kondisi pengasistenan di suatu kelas. Kadang miris ketika melihat kelas yang kurang memberikan respon positif, kadang juga senang ketika melihat kelas yang begitu antusias terhadap asistensi tersebut. Setidaknya hal ini dapat menjadi pelajaran dan pengalaman  ketika diri sendiri "menghadapi"asprak pada kesempatan lainnya.

Ya mungkin itu yang bisa dibagikan untuk pengalaman menjadi asprak. Banyak ilmu dan pengalaman yang didapatkan. Mungkin menjadi asprak dapat dijadikan referensi kegiatan tambahan mahasiswa selain kuliah sebagai kegiatan wajib mahasiswa. Selain itu, tips juga kepada calon asprak: "jadi asprak jangan hanya berdiri mematung, memainkan telunjuk, dan mendaparkan honor saja, tetapi juga sebagai ajang mendapatkan pengalaman, melatih softskill, menjalin silaturahmi, dan sebagai media 'kuliah tambahan".
Sekian